Beranda Riau Di Riau Bebas Penyakit Mulut Kuku Sapi, Dokter Kesehatan Hewan Sampaikan Hal...

Di Riau Bebas Penyakit Mulut Kuku Sapi, Dokter Kesehatan Hewan Sampaikan Hal Ini

31
Spread the love

SIAK, RIAUTERBARU.com – Sejak ditemukan pertama kali di Gresik pada 28 April lalu, wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkit hewan ternak terus meluas di Jawa Timur. Kementerian Pertanian per 5 Mei melaporkan, sebanyak 1.296 ekor sapi terjangkit PMK di Kabupaten Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, serta Gresik.

Di Provinsi Riau secara umum gambaran tentang adanya virus PMK ini belum tampak. Hal itu disampaikan salah seorang tenaga kesehatan hewan UPTD Dinas Peternakan Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Siak dokter Agung, saat dikonfirmasi, Sabtu (14/3/2022).

“Sejauh ini untuk Riau masih bebas dari penyakit PMK (Penyakit kuku dan mulut),” kata Agung.

Beberapa waktu lalu di Desa Pinang Sebatang Timur terdapat satu ekor sapi mati bukan dikarenakan virus PMK.

“Kalau untuk di Bunut itu kemarin ada laporan potong paksa karena malnutrisi. Malnutrisi itu penyakit Sapi kekurangan pakan/ pasca melahirkan,” ungkap dokter Agung.

Agung mengimbau masyarakat khususnya di kecamatan Tualang, jika menemukan ternak sakit bisa melaporkan ke pihaknya.

“Kalau ada ditemukan bisa mendatangi kantor desa setempat, selanjutnya kita akan dihubungi dan segera diambil tindakan,” pungkasnya.

PMK atau juga dikenal dengan Food and Mouth Disease (FMD) merupakan penyakit hewan menular akut yang berdampak signifikan terhadap ekonomi peternak. Jenis hewan yang rentan terjangkit, umumnya hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan ruminansia lainnya.

Syed M. Jamal dalam penelitiannya berjudul “Foot-and-Mouth Disease: Past, Present dan Future (2013)” menyatakan bahwa penyakit tersebut pertama kali muncul tahun 1514. Saat itu, beberapa ekor sapi milik seorang biarawan Italia, Hieronymus Fracastorius, menunjukkan gejala berupa luka kemerahan di rongga mulut dan kuku.

Baca Juga:  HIMAROHU Jakarta Resmi Dilantik

Lebih lanjut pada 1897, penyakit mulut dan kuku ini teridentifikasi mewabah secara global lewat penyebaran virus. Menurut Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE), organisme yang menjadi penyebab PMK adalah Aphthovirus dari keluarga Picornaviridae. Ada tujuh strain yang endemik di berbagai negara seluruh dunia, yakni A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1.

PMK ditemukan di semua ekskresi dan sekresi dari hewan yang terinfeksi. Khususnya pada hewan-hewan yang menghirup sejumlah besar virus aerosol, yang dapat menginfeksi hewan lain melalui rute pernapasan atau oral. Virus ini mungkin ada dalam susu dan air mani hingga 4 hari, sebelum hewan menunjukkan tanda-tanda klinis penyakit.

Penyebaran PMK di Seluruh Dunia

PMK terjadi di banyak bagian dunia, terutama di negara-negara berkembang di Afrika dan Asia. Lebih dari 100 negara dilaporkan masih terpengaruh oleh PMK di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dampak daripada PMK terkadang bisa mempengaruhi perkembangan atau kondisi ekonomi di suatu negara yang terdampak.

Sementara di beberapa negara maju, seperti Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Eropa telah memberantas penyebaran penyakit tersebut. Saat ini, negara-negara tersebut telah dinyatakan sebagai daerah bebas PMK. Namun, tidak menutup kemungkinan wabah PMK menjangkit kembali karena dapat terjadi secara sporadis.

 

Laporan : Simon