Beranda Riau Seruan WALHI Riau Menyikapi Pemilu 2024: Pilah, Pilih, dan Pulih

Seruan WALHI Riau Menyikapi Pemilu 2024: Pilah, Pilih, dan Pulih

11
Spread the love

PEKANBARU, RIAUTERBARU.com — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau menyampaikan seruan “Pilah, Pilih, dan Pulih” guna menghadapi Pemilu pada 14 Februari 2024.

Seruan ini disampaikan WALHI Riau dalam konferensi pers yang berlangsung di Rumah Rakyat Sekretariat WALHI Riau pada 6 Februari 2024. Dalam kesempatan tersebut, Even Sembiring selaku Direktur Eksekutif WALHI Riau menjelaskan latar belakang dan apa yang dimaksud dengan seruan “Pilah, Pilih, dan Pulih”.

“Seruan pilah merupakan ajakan bagi para pemilih untuk secara cermat menentukan pilihan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melihat rekam jejak para peserta Pemilu dari praktik kejahatan konstitusi, kejahatan HAM, kejahatan lingkungan, dan riwayat pelanggaran etik. Setelah memilah hal tersebut, para pemilih kembali harus cermat memperhatikan apa visi, misi, program, dan agenda yang diusung mereka. Terakhir, kita semua harus kembali teliti melihat keterhubungan para kandidat atau peserta Pemilu dengan jaringan bisnis dan tokoh yang mendukung,” sebut Even Sembiring

Even Sembiring menjelaskan bahwa Pemilu 2024 merupakan momentum penting untuk membangun potensi pulihkan Provinsi Riau serta pulihkan Indonesia untuk lima tahun ke depan. Walaupun momentum elektoral ini tidak boleh dimaknai sebagai sarana utama dan satu-satunya yang mampu mengantar Riau dan Indonesia lepas dari kondisi krisis.

Sri Wahyuni yang merupakan Wakil Ketua Dewan Daerah WALHI Riau dalam kesempatan itu membacakan seruan politik WALHI terhadap Pemilu Serentak 2024. Dalam membacakan dokumen tersebut dengan tegas menyatakan agar rakyat menolak terjebak pada janji, gimik, pencitraan dan praktik politik transaksional yang dilakukan oleh para kandidat yang berwatak curang, culas, dan ugal-ugalan. Selanjutnya, rakyat diajak untuk berkomitmen memilih kader politik hijau yang mengusung agenda platform politik keadilan ekologis dan mengawal agenda perwujudan Pulihkan Indonesia.

Baca Juga:  DBH Sawit Akan Diberlakukan, Riau Bakal Terima Triliunan Rupiah

”Untuk ke depan, kita sebagai rakyat harus menjadi pemilih cerdas. Dokumen ini, seruan ini, kami harap mampu memandu rakyat dalam menentukan pilihannya secara tepat. Tentu, tidak ada pilihan yang sempurna, kriteria lesser evil merupakan indikator paling tepat yang dapat digunakan untuk memilih kandidat. Pertimbangan rekam jejak kandidat dan partai yang mengusung dapat tolok ukur seberapa besar tingkat keburukan para kandidat dan paslon. Kriteria lesser evil juga dapat dipergunakan untuk membandingkan tawaran visi, misi, dan program kandidat mana yang lebih baik dibanding calon lainnya,” sebut Sri Wahyuni.

WALHI berpandangan bahwa jerat era kapital tergambar dari mayoritas peserta Pemilu, baik partai politik, calon anggota legislatif, hingga kandidat Capres-Cawapres yang kental dengan aroma oligarki. Politik transaksional merupakan agenda rutin elektoral yang ditunggu kelompok oligarki untuk melanjutkan kuasanya.

Biaya politik yang sangat tinggi dilihat sebagai peluang untuk menebar janji dan mendesain praktik ijon politik dengan menjadi donatur bagi para peserta Pemilu. Peserta pemilu yang terpilih akan diminta membalas budi dengan pemberian izin usaha atau kebijakan yang memuluskan bisnis oligarki. Praktik-praktik kotor ini bahkan tercermin apabila menelisik sederet nama-nama oligarki yang berkontestasi sebagai peserta, sebagai peserta sekaligus petinggi partai politik, hingga berposisi sebagai tim pemenangan dan pendukung tiga pasangan Capres-Cawapres.