Beranda SIAK Keluarga di Siak Berharap TH dapat Keringanan Hukuman atas Kepemilikan Senjata

Keluarga di Siak Berharap TH dapat Keringanan Hukuman atas Kepemilikan Senjata

66
0

SIAK, RIAUTERBARU.com – Panik, cemas dan khawatir serta tidka tahu harus bagaimana. Begitulah perasaaan Nur Siti Noviana (30) istri TH (32) yang baru-baru ini ditangkap personil Polda Riau dengan dugaan memiliki dan menyimpan senjata api jenis laras panjang lengkap dengan pelurunya.

Pria tersebut berinisial TH (32) warga Kwalian Kelurahan Kampung Rempak, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Riau setelha digeledah rumahnya, ternyata menyimpan dua pucuk senjata laras panjang. Dengan bukti itu, TH dicidul dikediamannya saat dini hari Kamis (12/1/23) oleh Jatanras Polda Riau.

Nur Siti Noviana (30) istri dari TH bercerita saat penangkapan suaminya itu terjadi di rumahnya. Novi tak memiliki firasat apapun terkait akan ditangkapnya suaminya atas kepemilikan senjata api ilegal.

Seperti keluarga kebanyakan, malam itu Novi dan TH sedang menikmati tidur di rumah berukuran 4×6 meter persegi. Mereka sudah empat tahun mendiami rumah berdinding papan itu.

Malam itu, dalam tidur Novi mendengar jejak langkah orang berjalan di sekitar rumahnya. Novi mengira ada orang akan mencuri sepeda motor mereka yang terparkir di luar rumah. Maklum, rumah sepasang suami istri ini berada sedikit di ujung kampung dan agak jauh dari tetangga.

“Saya bangunkan Mas TH, tiba-tiba saja pintu depan dan pintu belakang didobrak dengan keras dan disuruh Mas TH tiarap,” kata Novi saat ditemui di rumah kediamannya, Selasa (17/1/2023) malam.

Sontak, dentuman keras akibat dari dobrakan itu membuat orang seisi rumah terbangun termasuk dua orang anaknya yang masih berusia 8 tahun, 2,5 tahun serta kakak ipar dan anaknya.

Dengan mata berkaca-kaca Novi bercerita, peristiwa malam itu cepat sekali. Anak pertamanya, menangis, teriak kala melihat bapaknya diikat dalam kondisi tiarap.

“Anak pertama saya melihat peristiwa yang menimpa bapaknya, dia teriak, ketakutan hingga badannya gemetaran,” kata Novi.

Baca Juga:  Babinsa Koramil 04/Perawang Kembali Lakukan Upaya Pencegahan Karhutla

Wanita yang saat ditemui awka Media, memalai Mukena motif bunga-bunga, Novi mengatakan, Ia tak sempat lagi berkata apa-apa. Ia belum tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Yang Novi ingat, sekitar sepuluh pria berbadan tegap dan besar itu menggunakan baju kaos ada yang biru, hitam dan ada yang memakai rompi bertuliskan Brimob.

“Tidak satupun saya kenal, yang saya ingat mereka menggunakan rompi ada tulisan Brimob,” ucapnya haru.

Novi panik, malam itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun tak diperbolehkan memegang handphone, sehingga tak bisa menghubungi kerabatnya yang sejumlah rumhanya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Kami tinggal di Kwalian ini, ada 5 kakak beradik. Bahkan ibu mertua saya tinggal di rumah abang kami yang rumhanya sekitar 500 meter dari tempat kami ini. Tapi karena HP ditahan, saya tidak bisa menghubungi siapapun dan hanya panik sendiri di bagian dapur. Sedangkan suami saya waktu itu di flama rumah sekitra satu jam lah,” urainya.

Yang ia ingat, kalimat dari para pria tegap itu menanyakan kepada TH dimana letak senjata api itu.

Novi tahu letak senjata api itu, tapi Novi tidak tahu kalau senapan itu ternyata senjata api yang dilarang dan ilegal.

Karena, kata Novi, Ia hanya tau suaminya suka berburu babi lalu menjualnya untuk menambah pundi ekonomi keluarganya.

“Tanah rumah ini masih kredit, rumah kami beginilah bentuknya,” jadi Mas TH sering berburu untuk mendapatkan tambahan.

Keseharian TH, lanjut Novi, bekerja sebagai tukang singso atau olah kayu. Itupun kalau ada orderan. Jika tidak, untuk mengisi waktu yang kosong menambah pendapatan ekonomi suaminya berburu babi dan menjualnya ke orang cina.

Suaminya, tambah Novi, orang yang humoris. Setiap hari pulang ke rumah, tak pernah tak pulang. Jika pulang kerja, TH langsung bermain dengan dua orang buah hatinya yang masih balita.

Baca Juga:  Personel Koramil 04/Perawang Kembali Patroli PPKM Skala Mikro

Sempat mendengar kabar miring dari orang lain, bahwa suaminya terlibat jaringan. Kalimat itu membuat hati Novi semakin teriris.

“Mas TH diisukan orang terlibat aneh-aneh. Sedih saya. Mas TH bukan seperti itu,” beber Novi terisak.

Tak ada buku bacaan yang aneh-aneh di rumahnya. Menonton televisi pun hanya menonton kartun kesukaan anaknya.

“Mas TH itu biasa aja, gak ada bahas-bahas keagaman, politik, kalaupun nonton televisi paling nonton upin dan ipin, HP nya saja hanya nokia lama saja, bukan android,” ucap Novi.

Suaminya itu, tidak pernah tidak pulang kerumah, meski malam hari pulang berburu, TH pas pulang ke rumahnya.

“Gak pernah Mas TH tak pulang kerumah, meski larut malam pulang berburu, pasti mas pulang,” kenang Novi.

Setahu Novi, senjata itu memang digunakan TH untuk berburu, tak ada digunakan untuk yang lainnya.

“Senjata itupun memang untuk berburu, tidak ada niatan lainnya,” beber Novi.

Novi berharap, suaminya bisa kembali kedalam pelukannya dan bisa kembali mengisi waktu bersama dua buah hatinya.

Berat hati Novi menerima kenyataan ini. Pun demikian, Novi berharap agar suaminya dapat keringanan hukuman.

“Saya berharap mas bisa melihat anaknya tumbuh besar jadi anak-anak yang soleh. Saya tau betul, mas hobi berburu itu juga untuk menambah pendapatan ekonomi agar anaknya bisa seperti anak yang lain untuk bermain,” kata Novi dengan lirih.

Saat ini, anak pertama dari hasil pernikahan Novi dan TH kerap bertanya kepadanya kenapa bapak belum pulang ke rumah.

“Karena sudah seminggu anak pertama sering nanya, mak, bapak kerja kok gak pulang-pulang. Karena bapaknya tidak pernah tidak pulang ke rumah,” tutur Novi.

Harapan serupa juga terucap dari ibu kandung TH, Senen (73) berharap agar anak bungsu dari 12 orang anaknya itu bisa mendapatkan keringanan hukuman. Menurut Ibu Senen, TH adalah anak yang baik sekaligs manja.

Baca Juga:  Bupati Rohul Hadiri Pawai Taaruf MTQ Riau Di Kota Dumai

“Mudah-mudahan TH cepat balik kerumah dan berkumpul dengan keluarga,” ucap Ibu Senen yang berada di samping Novi.

“Janganlah TH dihukum lama, kasian istri dan anaknya yang masih kecil. Apalagi TH penopang ekonomi keluarga kecilnya,” tutur Ibu Senen.

Sementara itu, Lurah Kampung Rempak, Kecamatan Siak, Agusri yang turut datang berkunjung ke kediaman Ibu Novi mengatakan ia sesaat setelah penangkapan mengaku terkejut ada peristiwa tersebut. Karena pihak keluarga juga mengaku kehilangan anggota keluraganya yang dibawa sejumlah orang.

Agus mengakui tak mengetahui adanya penangkapan TH di wilayah kerjanya.

Kata Agus, tidak ada koordinasi maupun konfirmasi terkait penangkapan yang terjadi dini hari itu kepada pihaknya. Bahkan saat ditanyakan ke Polsek Siak dna Ke Pilres juga tidak mengetahui adanya penangkapan.

“Kami terkejut juga ada penangkapan dini hari tersebut. karena kami memang tidak tahu dan tidak ada koordinasi,” kata Agus dikonfirmasi.

Agus tak mempersoalkan bagaimana cara dan kapan ditangkapnya pelaku tindak pidana yang ada di wilayah kerjanya.

Namun, Agus berharap saat itu ada koordinasi dan komunikasi setelah dilakukannya penangkapan agar pihaknya juga tidak gelagapan jika ada warga lainnya yang bertanya.

“Kalau bisa kan berkoordinasi. Kalau memang penangkapan bersifat rahasia, kabarilah kami setelah penangkapan. Agar kami pun tau dan dapat menjelaskan terhadap warga yang maupun keluarga yang bertanya. Karena kami perangkat desa ini adalah bapaknya masyarakat,” kata Agus.

 

Laporan : Ali

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.